Postingan

Hari Menuju Pelukanmu

Hari-hari belakangan ini terasa seperti halaman buku yang kubaca terlalu pelan. Bukan karena ceritanya membosankan, melainkan karena aku ingin menikmati setiap rasa dalam penantian ini, sembari tak sabar bertemu denganmu di bab berikutnya. Aneh sekali, ternyata cinta mampu mengubah dua minggu menjadi semusim penuh rindu. Setiap pagi kuhitung tanggal di kalender, berharap angka-angka itu berbaik hati padaku. Barangkali melompati beberapa hari agar aku bisa segera memeluk dan memandang senyum manismu tanpa perantara layar. Satu hari terasa sepanjang percakapan yang belum sempat kita mulai. Satu malam menjelma jalan panjang yang harus kulewati seorang diri. Setiap hari, tanggal memang berganti satu, namun rinduku justru bertambah satu. Mungkin memang seperti itulah cara cinta bekerja; membuat waktu berjalan lebih lambat hanya agar pertemuan terasa jauh lebih berharga. Sebab pada akhirnya yang benar-benar kuhitung bukanlah hari, melainkan jarak yang semakin dekat menuju pelukanmu. -myprime...

Jeda

Pada akhirnya, aku kembali pada diriku yang ini Menjalani hari-hari dengan sesuka hatiku Setelah hari-hari bimbang, menerka banyak hal, meragukan diri sendiri Menebak apa yang kurang dariku hingga orang yang kusayang sering kali meninggalkanku Pada akhirnya aku kembali menikmati ketenangan lagi Aku mulai menikmati kesendirian ini Mungkin hari-hariku mulai menyepi, membiasakan diri untuk sendiri lagi, namun aku tidak kesepian Aku mulai menikmati kesendirianku kembali Mulai menulis lagi sambil menikmati cookies kesukaanku Duduk sendiri, melihat laman sosial media, sesekali meneguk thai tea Ngomong-ngomong, aku sedang mengurangi minum kopi Selain kopi membawaku pada banyak kenangan manis yang kini rasanya sedikit pahit, seperti rasanya Beberapa minggu terakhir, aku sudah mulai sering mual karena asam lambungku ini Ya, aku duduk di ujung ruangan toko kopi kesukaanku itu Sebenarnya karena tempatnya searah jalan pulang dan dekat dengan kosku saja sih Jadi aku sering mampir selepas pulang bek...

Warna

Pada kicau burung menyapa pagi, aku kembali Menerka lagi sedalam apa luka yang sempat terbingkai Tertegun bahwa hatiku sempat mati pada andai Yang pantasnya beradu sorai saat ramai Di situlah aku, menjalin harap dalam senyap Berharap luka ini tak selamanya menetap Seperti cerita yang sudah di ujung kalimat Bukan lagi saatnya mengeja siapa yang salah dalam berharap Sudah bukan lagi saatnya beradu kisah siapa yang paling terluka Maka sudah saatnya kembali melangkah Bersiap untuk mendaki terjal dalam suka dan duka Berbekal diri yang sembuh dan utuh secara logika Mulai menerima yang sempat tak seirama Mengemas yang sempat menjadi cemas Merajut langkah sambil bersujud Berlutut dalam doa-doa yang bertaut DidengarNya doa yang menjadi jerit panjang di tengah malam Hatinya ikhlas dan jiwanya tak lagi kelam Lalu datanglah sang tuan mengucap salam Menawarkan petualangan yang kemudian disulam Dikatakannya pada sang Tuan, Tenanglah, Hatiku sudah siap memulai kisah ini Mari merajut kehidupan dengan ...

Tanpa Suara

Di kejauhan kuamati langkah kakimu menjauhiku Kutatap punggung gagahmu tanpa satupun suara rindu Ia disekap Tak kubolehkan satu orang pun tahu Aku mendalami mata indahmu Mata yang dengannya kau memandang luas duniamu Aku curang, ikut masuk ke sana tanpa kau tahu Duniaku berubah seketika kau tertawa merdu Menjadi penyulut kebahagiaanmu di hari itu -aksarasaku

Sajak Hujan

Mewangi tetes air bumi membasahi tanahnya Tempatnya pulang setelah bertahan dalam kabut kelabu Mengalun gemericik air langit menyentuh pelataranku Mengumandangkan senandung yang lama tak terdengar olehku Akan aku rapalkan bait demi bait sajak hujan teruntuk dirimu setiap kau mau Agar semakin tenang nafasmu menerjang badai yang tak kunjung usai menghantam kemalut pikiran jiwamu Duduk dulu, bernafaslah sejenak Tanda kebesaran Tuhan sedang menyapamu di balik kaca angkasa aksarasaku

Terima Kasih ke-Sekian

Lihat ini, kutuliskan sebuah penghargaan untukmu di sela-sela waktuku menyelesaikan tugas dunia Kusampaikan padamu dengan begitu tulus rasa terima kasih Terima kasih atas segala caramu mengajariku berjuang dan merelakan kepergian Caramu meninggalkan dan caramu menyisakan harapan yang belum sempat tersampaikan Segalanya mampu membuatku tetap berdiri kokoh di sini Mampu membuatku mengulurkan tangan untuk hati-hati yang juga sama patahnya Mampu membuatku menarik dan memeluk jiwa-jiwa yang sama remuknya Caramu meminta maaf mengajarkanku untuk mampu menguatkan mereka agar membuka hati seluas-luasnya dan membiarkan segala luka hati itu mengering dengan sendirinya Tidak ditutup atau bahkan dicengkeram lebih erat Caramu berbahagia setelah tanpa aku pun juga mengajarkanku untuk selalu hidup dan menyadari bahwa segala yang Tuhan titipkan lewat dirimu begitu memesona Segala tentang kepergianmu menyadarkanku bahwa rasa ingin menjaga seseorang tidak selamanya harus memiliki dan bersanding...

Bukan, Bukan Begitu

Aku pernah begitu menggebu bermimpi mendatangi tempat yang konon katanya sangat mudah menggoreskan sejarah itu Bermimpi untuk mendatanginya bersama orang yang benar-benar aku inginkan Saat Tuhan mengabulkannya, aku benar-benar merasa sejarah itu seperti sangat dekat denganku Terasa begitu nyata di depan mata Aku seketika mematung, memandangi barang-barang bersejarah di hadapanku Disimpan dan diabadikan sebagai sesuatu yang bersejarah, mutlak untuk dikenang Apakah kisah tentang dirimu akan berakhir seperti barang-barang itu? Disimpan dan dibungkus rapih untuk menjadi salah satu tonggak keikhlasan dalam sejarahku Mutlak untuk dihormati Sebagai sosok yang berjasa dalam proses pendewasaanku Kau masih terlalu baik untuk disebut sebagai pematah angan-angan Meski banyak manusia yang pada akhirnya menepuk pundakku seraya menenangkanku dengan segala bentuk kesalahan yang kau perbuat Tidak, tidak begitu Aku masih percaya, kau bukanlah yang meretakkan hatiku Akulah pe...